Ruang Baca

Siapa Radikal, Siapa Teroris?.

Racunnya Istilah Islam Fundamentalis (2)
Selasa, 03/05/2011 13:33 WIB

Gerakan Islam sering kali dikait-katikan dengan istilah fundamentalisme. Organisasi-orgnisasi yang mengusung ide kembali kepada syariat Islam mendapatkan sebuah stigma negatif berupa Islam Fundamentalis. [1]

Media-media di Indonesia pun pasca pemberitaan (yang masih simpang siur) akan syahidnya Usamah Bin Laden, langsung mengusung kembali jargon-jargon Islam Fundamentalis lenngkap dengan distorsinya kepada gerakan-gerakan yang terkait Al Qaida.

Di Barat kasusnya hampir ironi. Karen Amstrong yang digadang-gadang sebagai penengah antara Islam dan Barat, masih melekatkan stigma fundamentalis kepada orang seperti Sayyid Quthb hanya karena gagasan Sayyid Quthb yang menolak Demokrasi. [2]

Pun Amerika mereka gemar menyudutkan nama-nama mujahid sebagai gembong yang mengusung Ideologi Islam yang kuat seperti Abul Al Al Maududi, Abdullah Azzam, Syekh Ahmad Yassin hingga Abu Bakar Ba’asyir sebagai gembong Islam fundamentalis.

Padahal, dalam sejarahnya, istilah fundamentalisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam. Sejarah fundamentalisme berawal pada ajaran agama Kristen yang mengembangkan kepercayaan mutlak terhadap wahyu, ketuhanan Al-Masih, mukjizat Maryam yang melahirkan ketika masih perawan, serta kepercayaan lain yang masih diyakini oleh golongan fundamentalis Kristen sampai sekarang. [3]

Lalu dengan begini apakah pas fundamentalisme kemudian dikaitkan kepada Islam? Apakah tepat istilah fundamentalisme menjadi kata tersendiri setelah menyebut nama Islam, sama persis dengan pertanyaan: Apakah pas pula jika dikatakan George Bush adalah seorang Kristen Salafi atau Obama adalah bagian dari kelompok Kristen sekte Tauhid Hakimiyyah? Menjadi rancu.

Fundamentalisme: Pertikaian Kristen, Bukan Islam

Pada konteks aslinya, istilah “fundamentalisme” adalah respon dari gerakan pemurnian teologi Kristen sebagai perlawanan terhadap modernisme. Ia berusaha memurnikan ajaran Kristen yang disusupi oleh sekularisme. Artinya fundamentalisme adalah gerakan kontra terhadap “pembaharuan” yang secara spesifik hanya terjadi pada lingkup Kristen.

Namun, pada penelusuran lebih dalam, James Barr dalam bukunya “Fundamentalism” [4] mengatakan bahwa istilah fundamentalisme bermula dari sebuah esai berjudul “Fundamentals” yang muncul di Amerika sekitar tahun 1910-1915.

Dengan mengambil ciri gerakan kembali ke asal, esai itu mewakili pandangan kaum tradisionil Kristen yang khawatir kehancuran ajarannya oleh serangan inflitrasi modernisme dalam pemikiran Kristen. Jadi, simpul Barr, fundamentalisme adalah studi yang berfokus pada gerakan fundamentalisme di dalam kekristenan (dan bukan dari agama Islam).

Sebagai sebuah organisasi yang terorganisir, fundamentalisme mulai terjadi pada Gereja-gereja Protestan, khususnya pada Gereja Baptis dan Gereja Presbyterian, di Amerika Serikat pada awal abad 20. Gereja Presbiterian sendiri adalah salah satu denominasi di lingkungan Gereja-gereja Protestan, yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropa Barat.

Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Calvin, Reformator dari Perancis Namun secara kelembagaan, Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Skotlandia, sebagai buah pekerjaan John Knox, salah seorang murid dari Calvin.

Karena latar belakang ini, Gereja Presbiterian pada umumnya ditemukan di negara-negara bekas koloni Inggris, seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, India, dan lain sebagainya.

Gereja Presbiterian pun dapat ditemukan di beberapa negara yang kuat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, seperti Korea Selatan dan Filipina.

Di Indonesia sendiri, Gereja Presbyterian terletak di Jalan Baru Ancol, Jakarta dengan nama Gereja Presbyterian injil Indonesia

Istilah fundamentalisme juga kemudian digunakan untuk para penjaga Injil (evangelikal) dalam golongan Protestan dan juga golongan Karzemy yang tumbuh pesat sebagai satu sekte dalam agama Kristen. Menariknya, awal mengapa penamaan fundamentalisme juga menyeret kaum Evangelis, karena di kalangan Kristen sendiri menolak penamaan fundamentalis. Sebagian kelompok Kristen akhirnya lebih senang ketika mereka disebut dengan Evangelisme Konservatif ketimbang Kristen Fundamentalis itu sendiri.

Menurut sebagian kalangan Kristen, fundamentalisme tidak mewakili dari akidah yang mereka anut, namun hanya untuk golongan dan sekte tertentu. Mereka kadang lebih suka menyebut dirinya dengan “Kristen sejati” atau Kristen saja. Karena setiap kritikan yang ditujukan kapadanya berarti hujatan atas agama itu sendiri. [5]

Oleh karenanya, fundamentalis Kristen akhirnya didefinisikan oleh sejarawan George M. Marsden [6] sebagai Evangelisme Protestan yang militan dan anti-modernis. Marsden kemudian menjelaskan bahwa fundamentalis adalah orang Kristen Evangelis yang pada abad ke-20 melakukan penentangan modernisme baik dalam sisi teologis maupun perubahan budaya modern.

Selain itu, menurut James Barr, fundamentalisme memang digerakkan oleh doktrin Bible untuk hidup secara militan. Barr mengatakan kendatipun posisi Evangelikal umumnya mengakui bahwa keselamatan diperoleh melalui Iman Kristus, namun bagi kaum fundamentalisme, bahwa Iman kepada Krsitus tidak saja cukup. [7]

Jadi, penamaan menjadi fundamentalis adalah hasil dari pertentangan antar golongan moderat Kristen dengan mereka yang keras dalam menafsirkan beberapa ayat Bible. Hal ini menjadi wajar karena dalam Kristen telah terjadi problem teks bible, baik dalam orisinalitas dan metode penafsiran. [8]

Karena faktor inilah kaum Protestan lalu membentuk sejumlah organisasi pada 1902 yang dikenal dengan nama The Society of The Holy Scripture. Organisasi ini menerbitkan 12 penerbitan dengan nama Fundamentals semata-mata cara kelompok protestan untuk melindungi kitab suci mereka dari proses desakralisasi oleh para penafsir liberal.

Selain The Society of The Holy Scripture, mereka juga mendirikan Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Inilah akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang lahir sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan penafsiran injil yang menafikan makna literal injil. [9]

Kerancuan Istilah dalam Islam.

Jadi pada dasarnya konteks fundamentalisme tidak pernah memiliki kaitan langsung dengan Islam. Istilah fundamentalisme murni lahir akibat pertentangan diantara teologi Barat itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin ketika Barat saling bertikai, Islam kemudian disuruh ikut campur menyelesaikannya dan terkena getahnya? Inilah yang pernah disinggung Sayyid Quthb dalam kitab Dirosah Islamiyah bahwa adalah mustahil jika Islam disuruh menyelesaikan masalah dunia, sedang Islam sendiri belum dijalankan sepenuhnya.

Bagaimana caranya ketika kerusakan sudah terjadi, Islam menjadi tertuduh dan nertanggung jawab atas semuanya sedangkan Islam belum ditegakkan. Bagi Sayyid Quthb, Islam baru akan menjadi Sistem yang efektif ketika dijaankan sepenuhnya dan tidak setengah-setengah. Sayyid Quthb menulis,

“Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang ditimbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam…. Jadi yang perlu diupayakan adalah laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukuman pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan dan dalam prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilangan dengan sendirinya” [10]

Selain itu, konsekuensi logis lainnya akan berimplikasi pada pemaknaan bahasa fundamentalis dalam Islam. Islam tidak mengenal kosakata fundamentalisme, Islam hanya mengenal kata Kaffah, syariat Islam, tauhid, dan lain sebagainya yang memliki jurang pemisah panjang dengan dimensi fundamentalisme dalam Kristen.

Dalam Islam, hambanya hanya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Satu, sedangkan fundamentalisme Kristen, menolak hal itu dimana mereka mengaku bahwa Tuhan adalah Tiga dan Tiga adalah Tuhan. Dalam Islam, Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, sedangkan dalam fundamentalisme Kristen justru hal itu harus ditolak, karena bagi mereka Tuhan lahir dari proses persalilnan dan kepercayaan itu harus dijaga seutuhnya. Ketika dia memperharui, maka ia menjadi kafir.

Akhirnya, Islam tidak bisa disebut dengan istilah Islam fundamentalis, sebagaimana Kristen juga tidak bisa disebut dengan Kristen salafi. Islam juga tidak bisa dipanggil dengan nama Fundamentalisme Islam sebagaimana Kristen juga tidak bisa dipanggil dengan Salafi Jihadi Kristen. Islam pun tidak mengalami problem teks Qur’an sebagaimana Kristen mengalami problem terhadap kitab sucinya.

Catatan Kaki

[1] Islam Fundamentalis juga kadang disebut dengan sebutan lain seperti Islam Politik. Dalam sejumlah literatur, berbagai istilah baik itu Islam Politik, “fundamentalisme”, Neo fundamentalisme atau revivalisme Islam memiliki substansi yang sama. John Esposito misalnya menyamakan istilah Islam Politik dengan “fundamentalisme Islam” atau gerakan-gerakan Islam lainnya. Lihat Riza Sihbudi, Menyandera Timur Tengah, (Jakarta: Mizan, 2007) h. 24

[2] Lebih lengkap baca, Nuim Hidayat, Imperialisme Baru,(Jakarta: GIP, 2010)

Selain itu menurut Karen Armstrong, fundamentalisme tidak hanya terdapat pada agama seperti Islam, Kristen, Yahudi melainkan juga terdapat dalam agama Hindu, Buddha dan bahkan agama Kong Hu Chu, yang sama‑sama menolak butir‑butir budaya liberal, melakukan kekerasan atas nama agama‑maupun membawa sakralitas agama ke dalam wilayah politik dan negara.

Lihat, Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen Dan Yahudi, Terj. Satrio Wahono, dkk. (Bandung & Jakarta: Mizan & Serambi Ilmu Semesta, 2000), hlm. x.

[3] DR. Haidar Ibrahim Ali. Al Ushûliyyah; Al Târîkh Wa Al Ma’na.

[4] James Barr. Fundamentalisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia.) Hal. 1-2. James Barr adalah Guru Besar Bahasa Ibrani di Universitas Oxford. Ia disebut-sebut peletak dasar kajian tentang fundamentalisme.

[5] Haidar Ibrahim Ali, op.cit

[6] George Marsden adalah seorang sejarawan yang telah banyak menulis tentang interaksi antara Kristen dan budaya Amerika, terutama pada Kristen Evangelikalisme.

[7] James Barr, op.cit, h. 378.

[8] I.J. Satyabudi, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana, menulis dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, bahwa penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M, sampai 1976 M, telah menghasilkan 5366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang berasal dari tahun 135 M sampai tahun 1700 M yang terdiri dari 3157 manuskrip yang bervariasi ukurannya.

Dari 5366 salinan naskah itu, jika diperbandingkan, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata. Lihat Adian Husaini, Problem Teks Bible.

[9] Fadhli Ayas, Menguak Fundamentalisme.

[10] Sayyid Quthb, Beberapa Studi Tentang Islam, (Jakarta: Media Dakwah, 2001) h. 101

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Ketika Kekejaman Kristen Tidak Disebut Teroris (3).

Sumber-2: http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapa-radikal-siapa-teroris-ketika-kekejaman-kristen-tidak-disebut-teroris-3.htm

Jumat, 06/05/2011 16:53 WIB | email | print
Dalam kasus terorisme, media memang terkenal tidak adil dalam memberitakan Islam. Islam menjadi agama yang paling banyak disudutkan dalam aksi kekerasan. Jika pada kasus pemboman Bali, Gerakan Amrozi Cs dicari sampai ke akar-akarnya, bahkan ditumpas tak bersisa, menjadi lain ceritanya jika Kristen yang melakukan tindakan sama. Seakan media menjadi bungkam seketika.

Dalam kasus kerusuhan Poso misalnya, pengadilan hanya berhenti pada nama tiga orang terdakwa Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu, dan tidak pernah diteruskan kepada siapa dibalik mereka sampai ke anggota-anggotanya. Padahal jelas Tibo cs bertindak atas nama gerakan.

Begitu juga dalam peberitaan internasional. Bush dan serdadunya -yang dikorbankan semangat Fundamentalisme Kristen-yang membunuh jutaan umat muslim di Timur Tengah, seakan-akan lenyap tanpa dosa. Media-media pun tidak ada yang memanggil Bush dengan sapaan teroris. Berbeda jika Usamah Bin Ladin yang diberitakan, baik media cetak maupun televisi ramai-ramai mencapnya teroris tanpa mendudukan kronologis dan pra asumsi yang berkembang.

Kita tentu bertanya-tanya, entah mengapa jika Kristen yang melakukan aksi kekerasan, stigma teroris menjadi kebal bagi mereka. Padahal sejarah mencatat bagaimana kekejaman yang dilakuakn Kristen bukanlah isapan jempol semata, mereka tidak hanya membantai Islam, tapi juga Yahudi, kaum Pagan, pelaku bid’ah secara keji dan tak beradab. Tulisan ini bukan untuk membangkitkan luka, namun bisa jadi pelajaran bagi kita untuk meluruskan isu seputar terorisme atas nama agama.

Pembunuhan Kaum Pagan [1]

Sejak agama Kristen diresmikan pada tahun 315 M, kuil-kuil kaum Pagan makin banyak dihancurkan oleh pengikut Kristen. Pendeta kaum pagan pun banyak dibunuh. Antara tahun 315 dan abad ke-6, ribuan orang penyembah berhala disembelih. Dan itu semua dilakukan atas nama misi Gereja.

Melaksanakan ritual ibadah pagan menjadi sangat berbahaya bagi pelakunya dan terancam hukuman mati, ini sudah terjadi mulai tahun 356 Masehi. Kaisar Kristen Theodosius (408-450M) bahkan membunuh anak-anaknya sendiri karena mereka bermain-main dengan patung-patung pagan. Menurut penulis Christian Chronicles, kaisar yang melakukan hal tersebut didasari akan kepatuhan terhadap seluruh ajaran Kristen.

Akhirnya, pada abad ke 6 seluruh hak hidup para penganut Pagan dinyatakan dicabut. Bahkan sebelumnya pada awal abad ke-4, filosof Sopratos dihukum mati atas perintah penguasa Kristen.

Selanjutnya di tahun 415 M, Hypatia dari Alexandria, seorang filosof wanita yang terkenal, diseret kemudian dipotong-potong tubuhnya oleh orang-orang Kristen Koptik radikal yang dipimpin oleh pendeta Peter. Hypatia sendiri adalah seorang ilmuwan Yunani dari Alexandria Mesir. Hypatia dibunuh karena menjadi penyebab kekacauan dalam agama. Ia dijuluki sebagai “pembela ilmu pengetahuan yang gagah berani melawan agama”. Dan beberapa pendapat mengatakan kematiannya menandai akhir dari zaman Hellenistik dan dimulainya zaman kegelapan (The Dark Ages).

Pembunuhan Atas Nama Misi Gereja

Selain membunuh secara kejam dan membabi buta kaum pagan, Kristen juga melakukan terorisme dan kesadisan terhadap mereka-mereka yang tidak mau ikut agamanya. Kaisar Karl (Charlemagne), misalnya, pada tahun 782 M tanpa punya nurani memenggal kepala 4500 orang Saxon, karena mereka tidak mau memeluk agama Kristen.

Kaum tani yang tidak mau membayar sumbangan kepada Gereja pun mengalami hal serupa. Mereka dijatuhi hukuman mati layaknya manusia penuh dosa. Jumlahnya pun tidak main-main, antara 5000 sampai 11.000 pria, wanita dan anak-anak, dibunuh pada tanggal 27 Mei 1234 dekat Altenesch (Jerman).

Lalu pada abad ke 16 dan 17 M, tercatat puluhan ribu warga Irlandia dibunuh. Pasukan Inggris terjun ke wilayah ini semata-mata demi menjinakkan orang-orang Irlandia yang liar. Mereka di anggap tidak lebih dari binatang yang hidup tanpa mengindahkan hukum-hukum Tuhan. Seorang pimpinan tentara Inggris yang terkenal kejam adalah Humphrey Gilbert yang memerintahkan untuk memenggal kepala semua tawanan.

Pembantaian Dalam Perang Salib

Belum lagi fakta, di Semlin dan Wieselburg (Hungaria), pada tanggal 12 sampai 24 Juni 1096 ribuan orang dihilangkan nyawanya secara kejam. Hanya dalam waktu hitungan hari dari tanggal 9 sampai 26 September 1096 sekitar 1000 orang dibunuh di Nikala atau Xerigordon (Turki).

Kita juga tidak lupa pada tanggal 11 Desember 1098, seribu orang Muslim di bantai di Marra. Tentara Salib yang lapar karena kehabisan makanan sampai-sampai mengambil daging mayat musuh yang sudah mulai membusuk dan memakannya (Christian Chronicle, Albert Aquensis).

Penaklukkan kota Jerusalem yang terjadi pada tanggal 15 Juli 1099 pun dihiasi kematian 60.000 warga Muslim, Yahudi, laki-laki dan anak-anak, yang dibunuh secara keji oleh Pasukan Perang Salib. Puluhan ribu kaum muslim yang mencari penyelamatan diatas masjid Al Aqsha pun dikejar sampai dapat dan mereka dibantai dengan sangat sadis.

Kekejaman demi kekejaman pasukan salib memang sulit dinalar oleh akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, pasukan tentara bengis itu telah membunuh ratusan ribu kaum muslim di Arra’t-un-Noman, salah satu kota di Syria. [2] Mereka bergerak atas “sabda” Paus Urban yang menyeru “Killing these godless monsters was a holy act: it was a Christian Duty to exterminate thi vile race from our lands” atau “Membunuh para monster tak bertuhan itu adalah tindakan suci: adalah kewajiban umat Kristen untuk memusnahkan angsa jahat itu dari wilayah kita.”

Salah satu saksi mata sampai-sampai menyatakan bahwa ,”Genangan darah manusia di depan Kuil Solomon setinggi pergelangan kaki orang dewasa”. Sedangkan, salah seorang penulis Kristen bernama Eckehad dari Aura mengatakan, “bahkan berlanjut hingga musim panas, udara di seluruh Palestina masih tercemari oleh bau mayat-mayat yang membusuk”.

Pembunuhan Terhadap Orang Bid’ah (Inkuisisi)

Sejatinya, Inkuisisi (dengan huruf I besar) adalah istilah yang secara luas digunakan untuk menyebut pengadilan terhadap bidaah oleh Gereja Katolik Roma. Undang-undang ini mengandung peraturan-peraturan yang sangat keras. Sanksi pelaku bid’ah bahkan bisa sangat mengerikan daripada kaum pagan yang jelas-jelas kafir dalam konsep mereka.

Dalam sejarahnya, Gereja Trinitarian yang menjatuhkan keputusan bersalah kepada seorang pelaku bid’ah akan memberikan hukuman tak berperi dari mulai penyiksaan, pembakaran sampai pemenggalan kepala.

Kasus ini sempat menimpa kaum Manichaean. Kaum Manichean adalah salah satu sekte yang dinyatakan bid’ah dalam Kristen karena melakukan praktek pengendalian kelahiran (KB) yang tidak diajarkan oleh Gereja Katholik. Bayangkan karena hal itu, ribuan orang Manichean menjadi korban seiring kampanye besar-besaran ke seluruh kekaisaran Romawi antara tahun 372 M sampai 444 M.

Selain pembasmian yang menimpa kaum Manichean, hal serupa juga menimpa kelompok Cathars. Orang-orang Cathars pada dasarnya menganut Kristen dengan baik, tetapi pada sisi lain mereka menolak segala peraturan Gereja Katholik Roma yang dirasa tidak adil seperti pajak dan larangan pengendalian kelahiran.

Lantas hanya karena hal itu, Paus Innocent III memerintahkan untuk membunuh para pengikut Cathars di tahun 1209. Kota Beziers (Perancis) pada tanggal 22 Juni 1209 pun dihancurkan. Semua makhluk yang hidup di dalamnya pun dibantai tanpa ampun. Jumlah korban menurut catatan sejarah berkisar pada angka 70.000 manusia, angka itu termasuk jumlah pemeluk Katolik yang menolak untuk menyerahkan tetangga dan sahabatnya yang di kategorikan bid’ah oleh Gereja.

Bid;ah lainnya yang juga dilakukan oleh Waldensians, Paulikians, Runcarians, Josephite dan lain-lain juga dienyahkan hingga tak bersisa. Ratusan ribu orang kemudian mati tak bernyawa oleh kekejeman pihak gereja. Bahkan John Huss, yang mengkritisi “Papal Infallibility” (Kemustahilan Paus berbuat salah) dan Surat penebusan dosa, dibakar hidup-hidup di tiang pancang pada tahun 1415.

Pembunuhan Terhadap Yahudi

Yang juga turut mengalami kekejaman selain Islam adalah kaum Yahudi. Max Margolis dan Alexander Marx dalam “A History of Jewish People” menceritakan bahwa pada periode 612-620 M, banyak kasus terjadi dimana Yahudi dibaptis secara paksa. Euric (680-687) membuat keputusan bahwa seluruh orang Yahudi yang dibaptis secara paksa ditempatkan dibawah pengawasan khusus pejabat dan pemuka gereja. Setelah diKristenkan secara paksa, orang-orang Yahudi itu tetap diawasi secara ketat oleh gereja, takut kalau-kalau mereka kembali melakukan ibadah Yahudi.

Bahkan Raja Egica (687-701) membuat keputusan bahwa semua Yahudi di Spanyol dinyatakan sebagai budak. Keputusan sepihak itu tidak saja berlangsung dalam satu sampai dua tahun, namun untuk selamanya. Harta benda kaum Yahudi disita dan mereka diusir dari rumah-rumah sehingga tersebar ke berbagai provinsi. Lebih dari itu anak-anak Yahudi yang berumur tujuh tahun ke atas diambil paksa dari orangtuanya dan diserahkan kepada keluarga Kristen. [3]

Selanjutnya pada tahun 1096, saat Perang Salib pertama, ribuan orang Yahudi dibunuh oleh Salibis Kristen di kota Worm teparnya pada tanggal 18 Mei 1906, di Mainz. Lalu pada tanggal 27 Mei 1096 sekitar 1100 orang Yahudi juga mengalami pembantaian.

Dalam Perang Salib itu, tercatat 12.000 orang Yahudi dibunuh dimana tempatnya membentang dari Worms, Mainz, Cologne, Neuss, Altenahr, Wevelinghoven, Xanten, Moers, Dortmund, Kerpen, Trier, Regensburg, Prag hingga Metz di Perancis.

Sedangkan pada tahun 1348 nasib naas juga dialami Yahudi, dua ribu orang diantara mereka dibunuh di Bassel (Swiss) dan Strassbourg. Sedangkan pada tahun 1349 diKita Praha, data menyatakan bahwa 3000 orang Yahudi telah tewas terbunuh. Sedang pada 42 tahun selanjutnya, takni pada tahun 1391, kaum Yahudi Seville habis oleh Kardinal Martines. Dalam catatan sejarah tercatat sebanyak 4000 orang Yahudi tewas dan 25.000 lainnya dijual sebagai budak.

Ternyata itu pun belum berakhir. Abad 15 adalah abad yang menjadi saksi pembantaian besar-besaran kaum Yahudi dan muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 misalnya, 13.ooo orang Yahudi dieksekusi atas perintah komandan inquisisi Spanyol, Faray Thomas de Torquemada.

Jatuhnya Granada ke tangan Spanyol juga berbuah ancaman bagi Yahudi. Hanya dalam beberapa bulan antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar dari mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Utsmani yang menyediakan tempat aman bagi Yahudi.

Stand J Shaw dalam “The Jews of the Ottoman Empire and the Turkish Republic” mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun itu sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki. 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Italia dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis tetap di Spanyol sebanyak 50.000 orang. [4]

Kekejeman Terhadap Muslim di Guantanamo

Dalam perkembangan modern, terror Kristen pun tidak pernah berhenti. Kebencian mereka terhadap Islam dilakukan dalam jejak-jejak pemerintahan Amerika Serikat. Mereka tidak saja membasmi jutaan umat muslim di Afghanistan, Pakistan, Kaukasus, Somalia, Palestina, Bosnia tapi juga menahan tawanan-tawanan muslim di penjara terkejam di Guantanamo. Umat muslim disiksa, dilecehkan, namun lagi-lagi tidak ada yang menyebut mereka dengan sapaan teroriss, bahkan sampai detik ini.

Lawrence Wilkerson, asisten mantan Menteri Luar Negeri AS Colin Powell, pernah membuat pengakuan dalam suatu pernyataan yang ditandatangani untuk mendukung gugatan yang diajukan oleh seorang tahanan Guantanamo, Adel Hassan Hamad.

Hamad, seorang pria Sudan yang ditahan di Teluk Guantanamo sejak Maret 2003 sampai Desember 2007, mengklaim bahwa dia mengalami penyiksaan oleh agen-agen AS saat berada di dalam tahanan dan mengajukan gugatan terhadap beberapa nama pejabat Amerika.

Menurut Wilkerson, baik Dick Cheney maupun Donald Rumsfeld sebenarnya mengetahui bahwa sebagian besar dari 742 tahanan yang pertama kali dikirim ke Guantanamo pada tahun 2002 adalah mereka yang tidak bersalah, tetapi yakin bahwa ada kemungkinan untuk membiarkan para tahanan itu bebas.

Wilkerson, yang menjabat sebagai kepala staf Powell sebelum ia meninggalkan pemerintahan Bush tahun 2005, mengklaim bahwa sebagian besar tahanan, yang terdiri dari anak-anak berumur 12 hingga kakek-kakek setua 93 tahun, tidak pernah melihat seorang tentara AS sebelumnya, kecuali setelah mereka ditangkap.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Rumsfeld dan Cheney pada khususnya, tidak punya belas kasihan bagi orang yang tak bersalah dan harus mendekam di Guantanamo selama bertahun-tahun, serta harus mengalami penderitaan hanya demi kepentingan AS untuk membenarkan perang melawan terornya.

“Dia (Cheney) sama sekali tidak memiliki kekhawatiran bahwa sebagian besar tahanan Guantanamo itu tidak bersalah … Jika ratusan individu yang tidak bersalah harus menderita,” kata Wilkerson.

Selanjutnya, Mohammad al-Kahtani, tersangka ke-20 peledakan serangan 11 September yang ditahan di Teluk Guantanmo, Kuba dalam sebuah catatan harian penjara mengaku dipaksa telanjang sambil menirukan gonggongan anjing saat menjalani penyidikan.

Saat tengah malam, kepala Kahtani kerap digebyuri air dan telinganya dijejali musik-musik keras karena mendadak harus menjalani pemeriksaan. Permintaannya untuk shalat senantiasa ditolak.

Selain itu, warga Arab Saudi ini juga diinterogasi di sebuah ruangan yang didekorasi dengan gambar-gambar korban 11 September. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus kencing di celana karena ketakutan. Harga dirinya juga dicabik-cabik ketika lehernya dikalungi gambar wanita setengah bugil. Sampai pernah suatu saat dia minta diperbolehkan bunuh diri.

Gambar-gambar yang sangat mengagetkan dunia, mengenai bagaimana para tahanan diperlakukan pernah beredar di awal tahun 2002 silam. Kondisi mereka lemah, dalam pakaian oranye yang menyala, mata, mulut, dan telinga disekap, kedua tangan dan kaki dirantai. Sel-selnya seperti kandang ayam. Kawat- kawat berduri melintang ke sana kemari siap merobek kulit dan daging.

Selanjutnya, Mohammed Sagheer, 52 tahun, seorang da’i Pakistan yang telah dikeluarkan dari Guantánamo juga menglima terror mental. Para sipir penjara menurutnya menggunakan obat untuk mengendalikan para tahanan. Sagheer menyatakan bahwa para tentara itu memberi tahanan sebuah tablet yang akan membuat para tahanan tak sadarkan diri.

“Saya sembunyikan tablet-tablet itu di bawah lidah, lalu membuangnya begitu penjaga tidak melihat,” katanya. Sagheer mengaku dua kali dihukum di sel isolasi yang gelap karena meludahi penjaga, yang menurutnya telah memprovokasinya dengan melempar Qur’an dan memukulinya. (pz/bersambung)

Sumber-1: http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/siapa-radikal-siapa-teroris-rancunya-istilah-islam-fundamentalis-2.htm

Catatan Kaki

[1] Bisa dilihat dala tulisan Kelsos dengan judul Victims of The Christian Faith di situs http://www.truthbeknown.com yang kemudian ditulis kembali oleh Hj. Irena Handono dalam buku Fitnah dan Teror, (Bekasi: Gerbang Publishing, 2008)

[2] Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi Kristen Islam, (Jakarta: GIP, 2004) h. 141

[3] Ibid, h. 140

[4] Ibid. h. 145

Sumber: Klik aja

Judul: Makkiyah dan Madaniyah.

Ada sebuah pertanyaan, Apa sih untungnya belajar tentang Makkiyah dan
Madaniyah?.
Kalau aku boleh jawab, untungnya sangat banyak sekali,
sebab itu adalah permasalahan kitab Allah, jadi,
sudah sepantasnya seorang Muslim/muslimah mengenal Kitabnya secara
perlahan, Allah memelihara Al Quran melalui tangan2 ulamaNya,
jadi, jgn pernah takut utk jadi seorang Ulama. 🙂
Saya akan mencoba memaparkan tentang permasalahan seputar
Makkiyah dan Madaniyah, selamt membaca,
kalau ada yang kurang sahabat2 bisa kasih komentar dibawah :).

Ibn A`rabi mengatakan didalam kitabnya Nasikh dan Mansukh:
Bahwa Al Quran itu terdiri dari:

1- Makkiyah.
2- Madaniyah.
3- Semasa rasul dalam perjalanan. (سفريا)
4- Semasa rasul ditempat (حضرايا)
5- Ketika rasul disiang hari. (نهارا)
6- Ketika rasul dimalam hari (ليلا)
7- Ketika rasul kelangit. (سمائيا)
8- Ketika rasul dibumi. (ارضيا)
9- Apa yang diturunkan diantara langit dan bumi.
10- Ayat yang turun di gua hira.

Kata Ibn Naqib didalam mukoddimah kitab tafsirnya:
Al Qur`an itu diturun dalam 4 bentuk kategori, diantaranya;

1- Makkiyah.
2- Madaniyah.
3- Didalam Madaniyah ada Makkiyah, begitu juga sebaliknya.
4- Yang bukan Makkiyah dan juga bukan Madaniyah.

Imam Suyuti mengatakan definisi Makkiyah dan madaniyah ada tiga:

1- (Ini adalah pendapat yang lebih masyhur)
Yang dikatakan Makkiyah itu adalah ayatnya turun
sebelum rasulullah hijrah keMadinah,
sedangkan Madaniyah itu adalah
ayat yang turun setelah rasul hijrah kemadinah,
baik ayat-ayat itu diturunkan dimekkah atau dimadinah,
seperti Fathul Makkah, Tahun Hijjatu Al Wida`
dan selama diperjalan ketika rasul bermusafir.

Utsman bin Sa`id Ad Darimy, sumbernya dari Yahya bin Salam,
ia mengatakan bahwa:
Apa yang diturunkan di-Makkah dan apa yang turun ketika rasul
menuju Madinah sebelum rasul sampai memasuki kota Madinah,
maka itu disebut dengan Makkiyah.
Dan apa yang diturunkan setelah rasul di-Madinah,
baik itu rasul bermusafir ke-Mekkah, Maka itu disebut Madaniyah.

2- Makkiyah itu adalah apa yang diturunkan di-Makkah,
walaupun itu setelah rasul hijrah,
sedangkan Madaniyah itu adalah apa yang diturunkan di-Madinah.
Sedangkan ayat yang turun ketika semasa rasul dalam perjalanan
tidaklah dikatakan dengan istilah Makkiyah atau Madaniyah.
Didalam Al Kabir Atthabarany, sumbernya dari Walid bin Muslim,
dari A`fir bin Mi`daan, dari Ibn Aamar, dari Abi Umamah,
ia mengatakan rasulullah bersabda:
Al Qur`an diturunkan di-tiga tempat:
1- Makkah.
2- Madinah.
3- Syam.
Kata Walid Dibaitul Maqdis.
Kata I`mad Ad Din ibn Katsir,
sebenarnya lebih Ahsan jika menafsirkan “Syam” itu ketika perang tabuk.
Imam Suyuti mengatakan:
Pinggiran kota Makkah juga termasuk Makkiyah,
seperti apa yang diturunkan ketika rasul di Mina, Arofah, Hudaibiyah.
Kemudian pinggiran kota Madinah juga termasuk Madaniyah,
seperti ayat yang turun ketika perang badar,
perang Uhud dan perang Sal`. (سلع adalah nama satu gunung di-Madinah).

3- Dikatakan Makkiyah, bahwasanya ayat itu untuk menyeru orang2 Mekkah,

kemudian dikatakan Madaniyah karena menyeru orang2 Madinah.
Permasalahan ini diambil dari ungkapan Ibn Mas`ud,
sebagaimana pemaparannya dibawah ini:
Didalam kitab Al Intshor milik Abu Bakar (Seorang hakim) ia mengatakan;
Permasalahan Makkiyah dan Madaniyah itu dikembalikan kepada hafalan
para sahabat2 rasulullah dan para Tabi`in,
sebab rasulullah tidak ada menjelaskan hal itu,
sebab rasulullah tidak pernah memerintahkan para sahabat
untuk mengetahui hal itu,
disamping itu juga tidak ada perintah yang mewajibkan dari Allah
untuk mengetahui hal itu kepada Ummat.
Hanya saja itu sudah seperti sebuah kewajiban bagi para ulama,
sebab dengan begitu para ulama akan mengetahui permasalahan
Nasik dan Mansukh, dan hal ini sudah diketahui tanpa harus ada
Nash dari rasulullah.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Ibn Mas`ud berkata:
Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Allah,
Tidak satupun ayat itu yang luput dariku kecuali aku mengetahuinya,
kepada siapa ditujukan dan dimana diturunkan.

Iklan

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: