Hajar Aswad


Judul: Bagaimana Hukum mencium Hajar Aswad

Hikmah tawaf telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya :

Thawaf itu hanya dilakukan di Ka’bah, Shafa, dam Marwah; dan lempar Jumrah adalah untuk menegakkan ibadah kepada Allah“. ( H.R Abu Dawud ).

Orang tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah, didalam hatinya terdapat perasaan mengagungkan Allah, sehingga menjadikannya orang yang ingat kepada Allah. Konkrit perbuatan tawaf adalah berjalan, mencium Hajar Aswad atau menyentuhnya, menyentuh Rukun Yamani, dan mangisyaratkan tangan ke Hajar Aswad, untuk mengingat Allah karena gerakan-gerakan ini merupakan bagian dari ibadah kepada-Nya. Setiap ibadah secara umum termasuk pengertian mengingat Allah. Adapun takbir, dzikir dan do’a yang diucapkan dengan lisan merupakan dzikrullah.

Mencium Hajar Aswad adalah ibadah, yaitu hanya dimaksudkan untuk menyembah Allah, mengagungkanNya, dam mengikuti Rasul-Nya. Ada riwayat menyebutkan bahwa ketika mencium Hajar Aswad Amirul Mukminin ‘Umar bin Khaththab berkata :

Aku tahu engkau adalah batu; tidak dapat menimpakan bahaya atau memberikan manfaat. Sekiranya bukan karena aku melihat Rasulallah SAW menciummu, pasti aku tidak akan menciummu“.

Anggapan sebagian orang bodoh bahwa tujuan mencium Hajar Aswad adalah untuk mendapat berkah sama sekali tidak memiliki dasar dan merupakan anggapan batil.

Adapun pernyataan sebagian kaum Zindiq bahwa tawaf di Ka’bah sama saja dengan tawaf di kuburan para wali mereka karena sama-sama penyembahan pada berhala, merupakan sikap yang munafik mereka dan penentangan mereka kepada Islam, karena kaum mukmin tidak akan melakukan tawaf di Ka’bah bila tidak ada perintah dari Allah. Akan tetapi, ketika Allah memerintahkan kepada para malaikat untuk sujud kepada Adam ini merupakan ibadah dan menolaknya berarti kafir kepada-Nya.

Dengan demikian tawaf di Ka’bah adalah ibadah yang agung dan merupakan salah satu rukun haji. Haji merupakan rukun Islam. Oleh karena itu, seseorang yang melakukan tawaf di Ka’bah dengan hati tenang akan merasakan kenikmatan tawaf dan hatinya memperoleh kesadaran bertaqarruh kepada Tuhannya karena menyadari keutamaan dan ketinggian nilainya. Wallahu al-musta’aanu.

Dikutip dari : Syekh Ibnu Utsaimain [ Majmu’ Fataawa wa Rasaail juz 2 hal. 318 – 319 ]

Sumber: Klik Aja

Judul: Asal Usul dan Hukum Mencium Hajar Aswad

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustaz, yang saya ingin tanyakan asal usul Hajar Aswad itu dan bagaimana ia sampai ditempatkan di samping Ka”bah. Apakah ada sunnahnya kita menciumnya? Dan apa nilai, fungsinya dan hukumnya mencium Hajar Aswad tersebut?

Terima kasih sebelum nya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hajar Aswad maknanya adalah batu hitam. Batu itu kini ada di salah satu sudut Ka`bah yang mulia yaitu di sebelah tenggara dan menjadi tempat start dan finish untuk melakukan ibadah tawaf di sekeliling Ka`bah.

Dinamakan juga Hajar As`ad, diletakkan dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu yang berbentuk telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah. Dibingkai dengan perak setebal 10 cm buatan Abdullah bin Zubair, seorang shahabat Rasulullah SAW.

Batu ini asalnya dari surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis.

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam.” (HR Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersada, “Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak.” (HR Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).

At-Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180, 5222 dan 6975.

Dari Abdullah bin Amru berkata, “Malaikat Jibril telah membawa Hajar Aswad dari surga lalu meletakkannya di tempat yang kamu lihat sekarang ini. Kamu tetap akan berada dalam kebaikan selama Hajar Aswad itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu masih mampu menikmatinya. Karena akan tiba saat di mana Jibril datang kembali untuk membawa batu tersebut ke tempat semula. (HR Al-Azraqy).

Bagaimanapun juga Hajarul Aswad adalah batu biasa, meskipun banyak kaum muslimin yang menciumnya atau menyentuhnya, hal tersebut hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Umar bin Al-Khattab berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya.”

Wallahu a`lam bish-shawab, wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber: Klik Aja

Iklan

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: